Penjelasan BMKG terkait Rentetan Gempa yang Terjadi di Pulau Jawa


Shake Map (Foto: Humas BMKG)

jabarnetwork.com, Sejak kemarin hingga hari ini beberapa wilayah di Jawa Barat dan Banten telah diguncang gempa bumi.

Rentetan gempa bumi yang terjadi, pertama pada Sabtu 22 Mei 2021 pukul 22.47 WIB. Gempa bumi tektonik telah mengguncang wilayah Kabupaten Bandung.

Kedua, hari ini (Minggu, 23 Mei 2021) gempa bumi pun terjadi sebanyak dua kali pada pukul 10.48 dan 10.50 WIB terjadi di Kabupaten Pandeglang, Banten.

Kemudian disusul oleh 6 kali gempa bumi susulan dengan kekuatan 4 sampai 5 magnitudo.

Dari rentetan gempa bumi yang terjadi di Jawa Barat dan Banten sejak kemarin hingga hari ini, diketahui merupakan jenis gempa bumi dangkal dari aktifitas pergerakan lempeng  dan sesar yang lokasi episenternya berbeda satu sama lain.

Menurut Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Bambang Setiyo Prayitno dua gempa bumi tektonik telah mengguncang Selat Sunda.

Guncangan pertama berkekuatan 5,0 magnitudo dan yang kedua 5,4 magnitudo. Keduanya guncangan tersebut tidak berpotensi tsunami, tetapi warga tetap diminta waspada.

“Hasil analisa BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter awal gempa pertama M5,0 dan gempa kedua M5,4 yang selanjutnya dilakukan pemutakhiran menjadi M4,9 dan M5,2” tutur dia dikutip JBN dari  siaran pers Humas BMKG, Bandung, Minggu 23 Mei 2021.

Untuk episenter gempa bumi pertama terletak pada koordinat 6,59 LS dan 105,45 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 17 km arah Barat Laut Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten pada kedalaman 10Km.

“Episenter gempabumi kedua terletak pada koordinat 6,64 LS dan 105,43 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 16 km arah Barat Laut Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten pada kedalaman 10Km,” ujar dia.

Berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar lokal.

“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan sesar naik atau thrust fault ,” ucap dia.

Meskipun dua gempa bumi terjadi hari ini pada skala 4 sampai 5 magnitudo, gerataran gempa bumi ini dirasakan sampai ke Kalapnunggal, Sukabumi, Labuan, Munjul, Rangkasbitung, Banjarsari, Cileles, Cirinten, dan Bayah.

“Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempabumi tersebut,” ujar dia.

Meski begitu, hasil monitoring BMKG menunjukkan ada 6 kali aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) dengan skala kekuatan 2,8 sampai 4,6 magnitudo.

“Masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” imbau dia.

Sekali lagi mengingatkan masyarakat agar menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan gempa bumi.

Sebelum masuk rumah, pastikan  bangunan tempat tinggal cukup tahan gempa, ataupun  tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang akan membahayakan.

Sementara itu, menurut Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) wilayah II Tangerang, Selatan, Hendro Nugroho untuk gempa bumi yang terjadi kemarin (Sabtu, 22 Mei 2021) pukul 22.47 WIB adalah jenis gempa bumi tektonik.

Gempa bumi yang terjadi kemarin berkekuatan 4,7 magnitudo. Episenter terletak pada koordintas 8.1 LS dan 107.17 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 126Km Barat Daya Kabupaten Bandung pada kedalaman 32 kilometer.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalama hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal,” tutur dia dikutip JBN dari  siaran pers Humas BBMKG wilayah II Tangerang, Selatan, Bandung, Minggu 23 Mei 2021.

Akibat dari aktivitas Zona Subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam kebawah Lempeng Eurasia.

“Dari peta tingkat guncangan (shakemap) dampak gempa bumi masuk pada skala intensitas II-III MMI, atau getarannya dirasakan nyata di dalam rumah,” kata dia[]

Leave a Reply