Mitos Babi Ngepet, Tuyul dan Pesugihan Begini Penjelasan Antropolog

Antropolog dari Universitas Negeri Malang, DR Abdul Latif Bustami (Foto: dokumen pribadi DR Abdul Latif Bustami )

jabarnetwork.com, Babi tengah trending di Twitter hari ini (Rabu, 28 April 2021). Bahkan kata kunci babi populer ketiga di Twitter.

Sampai saat ini saja (pukul 16.59) kata kunci babi di re-tweet hingga 94,8 ribu kali mengalahkan Fadli Zon yang sempat trending di Twitter.

Babi trending di Twitter gara-gara berita soal seekor babi berwarna hitam yang diduga babi jadi-jadian atau yang disebut babi ngepet ditemukan pada (Selasa, 27 April 2021) dini hari oleh warga Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan, Depok, Jawa Barat.

Salah satu warga menyebutkan bahwa babi ditangkap di tengah malam sekitar pukul 03.00 WIB oleh sejumlah warga yang bertelanjang badan.

Menangkap babi dengan bertelanjang badan dipercaya dapat memudahkan menangkap babi, yang dipercaya sebagai babi jadi-jadian atau yang sering disebut babi ngepet.

Setelah ditangkap, warga kaget karena melihat ukuran babi semakin lama semaki mengecil. Dari panjang 50 cm menjadi 30 cm, yang kemudian warga setempat pun mengaitkannya dengan hal-hal mistis.

Sampai ada warga yang justru menuduh salah satu warga lainnya menjadi pelaku babi jadi-jadian atau babi ngepet, tuduhan tersebut divideokan warga lainnya hingga viral di jagat maya.

Dalam video yang viral di media sosial tersebut seorang  ibu memberikan kesaksiannya bahwa dia mengetahui pemilik babi atau yang menjadi babi tersebut. Ibu tersebut menuduh salah satu tetangganya yang pengangguran tetapi justru memiliki banyak uang.

“Saya dari kemarin sudah pantau pak orang ini, ini dia berumah tangga dia nganggur tapi uangnya banyak. Saya sudah lewat rumahnya, saya lempar sesuatu di depan rumahnya biar ketahuan. Itu memang saya,” kata kesaksian seorang ibu dalam video yang dilansir jbn dari akun @infodepok_id, Bandung, Rabu 28 April 2021.

“Ada (info dari) teman saya, dia itu (pemilik babi) dekat rumah teman saya. Teman saya yang laporin sebelum kejadian ini. Saya bilang ke teman saya lewat WA, ini orangnya (sambil menunjukkan handphone),” ujar ibu dalam video yang viral.

Sampai ada warga yang justru menuduh salah satu warga lainnya menjadi pelaku babi jadi-jadian atau babi ngepet, tuduhan tersebut divideokan warga lainnya hingga viral di jagat maya, dan berakhir ucapan permohonan maaf dari ibu yang menuduh tersebut.

Setelah viral, ternyata fenomena babi ngepet  yang sebelumnya dipercaya masyarakat Depok tersebut dipastikan hanya rekayasa dari Adam Ibrahim (AI).

Hal ini diketahui dari hasil perkembangan penanganan yang dilakukan Polres Metro Depok atas perkara informasi penangkapan seekor babi yang diviralkan sebagai babi ngepet.

Kapolres Metro Depok Kombes Imran Edwin Siregar memastikan fenomena babi ngepet di Depok tersebut hanya rekayasa dari tersangka AI, salah satu tokoh di Depok.

Terlepas motif tersangka dari upaya merekayasa babi ngepet yang sempat menghebohkan, dan dipercayai oleh sebagian masyarakat.

Antropolog: Fenomena Babi Ngepet di Depok Murni Klenik

Antropolog dari Universitas Negeri Malang, DR Abdul Latif Bustami menjelaskan ihwal kenapa masyarakat saat ini masih percaya fenomena babi ngepet, tuyul, pesugihan dan hal-hal yang mistis.

Menurut DR Abdul Latif Bustami fenomena munculnya babi jadi-jadian, babi ngepet atau pesugihan  yang ramai di Depok, Jawa Barat ini sebenarnya bukanlah hal yang baru.

Sebelumnya pun, fenomena serupa pernah terjadi di salah satu daerah.  Tapi bukan babi ngepet melainkan tuyul.

DR Abdul Latif Bustami melihat fenomena babi ngepet di Depok murni klenik atau dengan kata lain mistis. Bukan bagian kebatinan atau bagian dari kepercayaan  masyarakat karena beda konteks. Babi jadi-jadian, babi ngepet, tuyul dan sejenisnya ini murni klenik atau mistis. 

“Bukan aliran kebatinan, kepercayaan masyarakat karena itu berbeda,” tutur dia saat dihubungi jbn, Kamis 29 April 2021.

Sesuatu yang klenik atau mistis ini lanjut dia mengatakan, memang meyakini sesuatu atau memilih jalan yang irasional dalam memenuhi kebutuhan atau dalam hal berusaha,  dalam konteks  ini berusaha ingin cepat kaya, mencari uang dengan jalan babi ngepet, pesugihan, tuyul dan sejenisnya.

Hal klenik di Depok, babi ngepet ini muncul tidak berdiri sendiri. Fenomena ini muncul karena kompensasi masyarakat dari tekanan ekonomi, sosial dan politik sehingga lari ke hal yang mistis seperti ini.

Dalam teori kebudayaan disebut juga, kompensasi masyarakat disaat tidak bisa menyelesaikan atau tidak menemukan soluasi atas masalah hidupnya sehingga beralih ke hal yang mistis, hal yang irasional.

“Saya pun melihat fenomena babi ngepet, tuyul ini sebagai ciri kalau masyarakat kita masih hidup di tahap magisme,” ujar dia.

Anehnya, fenomena ini muncul di Depok, Jawa Barat yang dikenal wilayahnya banyak kampus, banyak orang yang berpendidikan tinggi, banyak orang pintar dengan tingkat literasi tinggi. Tapi, di pinggiran Depok dengan tingkat pendidikan yang masih belum memadai muncul fenomena mistis, babi ngepet atau pesugihan.

“Fenomena (babi ngepet) di Depok ini menurut saya menarik, terjadi di pinggiran Depok,” ucap dia.

Selain itu, DR Abdul Latif Bustami pun berpandangan, fenomena babi ngepet di Depok ini kalau dilihat dari aspek politik bisa saja sebagai upaya pengalihan masyarakat terhadap isu-isu besar lainnya.

Bercemin dari banyaknya muncul fenomena serupa akhir-akhir ini, ada babi ngepet di Depok, sunda empire sebelumnnya dan deretan peristiwa serupa lainnya.

“Dan saya pun melihat fenomena ini sebagai pembelahan kelompok yang mereproduksi narasi-narasi negatif. Seperti babi ngepet yang tujuannya menimbulkan konflik antar dua kelompok,”  kata dia.

Hal senada pun disampaikan oleh Kepala Pusat Studi Desentralisasi dan Pembangunan Partisipasif FISIP Universitas Padjajaran (Unpad), Dr Ahmad Buchari.

Menurutnya, fenomena babi ngepet di Depok, Jawa Barat sebagai bentuk frustasi sosial. Frustasi sosial ini muncul karena kejenuhan dan kebuntuan masyarakat terhadap orientasi ke depan atau hari esok ditengah kondisi himpitan dan ketidakpastian ekonomi.

Banyak masyarakat yang tengah kesusahan akibat pandemi Covid-19. Sehingga,hal-hal yang mistis seperti inilah muncul sebagai kompensasi masyarakat terhadap frustasi sosial.

“Fenomana babi ngepet, pesugihan ini hanyalah kompensasi masyarakat dari tekanan kebutuhan ekonomi, tekanan sosial politik. Masyarakat sudah tak percaya yang realistis dan malah lari ke hal yang mistis, babi ngepet, tuyul dan sebagainya.

Selain itu, ia pun melihat fenomena babi ngepet di Depok, Jawa Barat sebagai kontstruksi sosial budaya saintek.Maksudnya, gelombang ketiga era informatika dimana digitalisasi multimedia membuat perilaku masyarakat sedikit bergeser ke kepercayaan supra natural dan irasional. Sebagaimana dikatakan Naisbett terkait gelombang ketiga era informatika.

“Faktor dominannya adalah gaya hidup modern liberal dalam pemahaman keagamaan yang longgar alias kurang,” ucap dia[]

Leave a Reply