Masuk dalam Kategori Kelompok Berisiko, 21,5 Juta Lansia Bakal Disuntik Vaksin Covid-19

Sumber: pixabay.

jabarnetwork.com, Pemerintah menargetkan memvaksinasi Covid-19 kepada 21,5 juta lansia di seluruh Indonesia. Percepatan pemberian vaksin dilakukan untuk menekan tingginya jumlah lansia yang meninggal akibat Covid-19, yang mencapai 50%.

Bercermin dari data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, persentase lansia yang terpapar Covid-19 di Indonesia memang hanya 10%. Namun, total lansia yang meninggal karena Covid-19 mencapai angka 50%. Data tersebut menunjukkan risiko besar kelompok lansia dalam menghadapi wabah Covid-19 ini.

Menurut Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, karena kelompok lansia masuk dalam kategori kelompok berisiko tinggi terpapar Covid-19, dan paling besar kemungkinan fatalnya (meninggal). Maka, lansia didahulukan mendapatkan vaksinasi Covid-19.

“Karena berbasis risiko. Kalau tenaga kesehatan risikonya tinggi karena sering dan banyak terekspos virus (Covid-19). Kalau lansia didahulukan karena risikonya tinggi, kalau terkena, kemungkinan fatalnya besar,” tuturnya seperti dikutip jabarnetwork dalam laman setkab.go.id, Bandung, Rabu 17 Februari 2021.

Lansia Bakal Diberikan Vaksin CoronaVac Produksi Sinovac

Sementara itu, Kepala BPOM Penny K. Lukito menuturkan, BPOM telah mengeluarkan persetujuan penggunaan darurat (emergency use authorization) vaksin CoronaVac untuk usia 60 tahun ke atas dengan dua dosis suntikan vaksin, yang diberikan dalam selang waktu 28 hari.

Sebelum disetujui, emergency use authorization ini diberikan melalui pembahasan yang dilakukan BPOM dengan pihak terkait, seperti Komisi Nasional Penilai Obat, Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), dokter spesialis alergi dan imunologi, serta spesialis geriatrik terhadap hasil uji klinis vaksin CoronaVac di China dan Brazil yang melibatkan kelompok berusia 60 tahun ke atas.

“BPOM telah memantau dan mendapatkan data uji klinis vaksin CoronaVac fase pertama dan kedua di Cina, dan fase ketiga di Brazil. Persetujuan BPOM tersebut diberikan setelah memeriksa data uji klinis di kedua negara tersebut,” tutur dia.

Vaksin CoronaVac ini dipastikan aman, karena berdasarkan uji klinis fase pertama dan kedua di China yang melibatkan 400 orang lansia, menunjukkan vaksin CoronaVac yang diberikan dalam 2 dosis dengan jarak 28 hari memberi imunogenisitas yang baik.

“Yaitu, dengan seroconversion rate setelah 28 hari pemberian dosis kedua adalah 97,96%, tidak ada efek samping serius derajat 3 yang dilaporkan akibat pemberian vaksin (CoronaVac),” kata dia.

Uji klinis fase ketiga yang berlangsung di Brazil dengan melibatkan 600 lansia pun aman. 600 lansia yang divaksin CoronaVac pun menunjukkan tidak ada efek samping serius yang dilaporkan[]

Leave a Reply