Lampiran Perpres Investasi Miras Dicabut, Refly Harun Pertanyakan Dalang

Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun (kanan) bersama Jurnalis Senior Karni Ilyas (kiri). Sumber: Instagram @reflyharun

jabarnetwork.com, Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun mempertanyakan dalang dibalik pembentukan Peraturan Presiden (Perpres) No. 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal terutama pada point lampiran aturan investasi di bidang industri minuman beralkohol.

Tiba-tiba entah dapat ide dari mana. Perpres No. 10 Tahun 2021 (tentang aturan investasi di bidang industri minuman beralkohol) dibuka (dibuat). Siapa otak dibalik semua ini. Tiba-tiba minuman keras dijadikan peluang investasi,” tuturnya seperti dikutip www.jabarnetwork.com dalam Chanel Youtube Refly Harun, Jakarta, Rabu 3 Maret 2021.

Bagaimana mungkin di negara yang mayoritas penduduknya muslim lanjut Refly mengatakan, yang mengharamkan minuman beralkohol atau yang sering disebut minuman keras tiba-tiba muncul kebijakan publik yang justru kontradiktif dengan kondisi tersebut.

“Bagaimana cara berpikir pemerintah itu. Siapa otak dibalik semua ini? Hanya demi investasi dan uang. Okey, misalkan minuman beralkohol ini katakanlah untuk ekspor. Jadi aneh, Indonesia yang negara mayoritas muslim menghasilkan ekspor minuma beralkohol atau tertinggi pengonsumsi minuman keras,” kata dia.

Menurut Refly, kalau bicara soal investasi pasti ujungnya adalah keuntungan. Melalui kebijakan dibukanya kran investasi minuman beralkohol atau yang sering disebut minuman keras ini. Pasti harapan atau doa pemerintah adalah iindustri minuman keras ini harus terus maju.

“Supaya maju, otomatis tingkat konsumsi minuman beralkohol ini harus tinggi dalam negeri atau luar negeri,” ujar dia.

“Kalau kita mau menyumbang perdamaian di dunia (termasuk di negara sendiri) ya bukan ekspor minuman keras. Tapi seharusnya hal-hal baik dari Indonesia (bukan minuman keras) agar bisa dicontoh negara lain,” ujar dia.

Seharusnya pemerintah berpikir, minuman keras itu tidak baik bagi kesehatan apalagi dalam perspektif agama dan kemanusian, serta Hak Asasi Manusia (HAM). Dalam HAM, setiap manusia memiliki hak menikmati hidup dan lingkungan yang bebas serta lepas dari ancaman atau dampak (buruk) minuman keras.

“Minuman keras (miras) ini penyebab banyak kematian, kecelakaan,” kata dia.

Setelah ini, ia sangat berharap pemerintah tak lagi membuat kebijakan yang buruk bagi masyarakat. Jangan smapai minuman keras dilegalkan.  Kalaupun ada hanya pembatasan-pembatasan di tempat paling terbatas, dan suatu saat minuman keras ini seharusnya dihilangkan saja[]

Leave a Reply