Cerita Nahas Para Korban Penipuan Akumobil

Para korban penipuan akumobil saat mengadu ke DPRD Jawa Barat, Jumat (8/11/2019);

jabarnetwork.com,Dengan raut muka murung, Syarifudin (51 tahun) mengaku sedih karena uang puluhan juta miliknya telah raib akibat tergiur membeli mobil baru dengan harga murah di Akumobil. Ironisnya, sampai saat ini mobil yang didambakannya tak kunjung diberikan oleh pihak Akumobil.

Dengan nada suara berat Syarifudin menceritakan awal mula dirinya tertipu oleh Akumobil. Ia mengaku awalnya tidak berniat sengaja datang ke Trans Studio Mall TSM Bandung. Tetapi, karena sepanjang jalan protokol terutama di Jalan Gatot Subroto Bandung, ia melihat begitu banyak pamflet, brosur sampai baliho besar yang menginformasikan flash sale mobil murah mulai Rp40 sampai Rp50 juta. Ia pun penasaran dan tergiur, yang akhirnya spontan ia melaju ke TSM Bandung untuk melihat acara flash sale yang dilakukan Akumobil.

“Jujur, ini berawal dari rasa penasaran yang akhirnya tergiur karena ingin mendapatkan mobil murah, yang akhirnya saya tertipu. Ini adalah kebodohan saya,” tuturnya, Bandung, belum lama ini.

Setelah sampai di TSM Bandung terang Syarifudin,  dirinya terpana dengan riuhnya suasana dan megahnya acara flash sale Akumobil saat itu. Ia melihat  begitu banyak mobil berjejer dari kelas Low Cost Green Car (LCGC) sampai kelas premium, sampai banyaknya artis papan atas yang ikut meramaikan acara flash sale Akumobil di TSM Bandung. Melihat ramainya suasana tersebut, apalagi ada konsumen yang berhasil memboyong salah satu mobil. Syarifudin pun tak berpikir panjang dan langsung datang ke Panitia Akumobil.

“Saya pertama-tama ikut pendaftaran dengan membayar Rp1 juta rupiah. Setelah mendaftar pihak Akumobil memberikan 1 nomor undian dan 1 lagi disimpan oleh pihak Akumobil. Waktu itu, ada 5 unit mobil yang menjadi incaran. Ada Daihatsu Sigra, KIA, Honda Brio dan Suzuki Ignis. Melihat mobil-mobil tersebut, saya dan pasti konsumen lainnya sangat tergiur,” terang Syarifudin.

Diakui Syarifudin, saat mengikuti flash sale Akumobil ia sama sekali tak curiga adanya tindak penipuan. Baik itu mulai dari mobil yang dijual sangat murah, termasuk dengan sistem penjualan yang menggunakan sistem pengundian persesi.

“Jujur saya tak berpikir kesana (tertipu) waktu itu, karena melihat semuanya yang dilakukan Akumobil sangat meyakinkan calon konsumen,” ucap Syarifudin dengan nada kecewa dan menyesal.

Setelah mendapatkan 1 nomor undian jelas Syarifudin, ia dan konsumen lainnya tinggal menunggu nomor undiannya keluar saat pengundian di sesi-sesi flash sale.  Apabila nomor undian keluar saat pengundian flash sale, konsumen harus segera melunasi uang ke rekening Akumobil atas nama PT Akudigital Indonesia dalam waktu 15 menit saja. Apabila dalam waktu 15 menit konsumen tidak melunasi uang maka akan hangus.

“Saya misalnya, waktu itu keluar nomor undiannya, saya pun harus segera membayar uang sisa Rp49 untuk mobil tersebut. Mengapa hanya Rp49 juta? Karena sudah Rp1 juta saat pendaftaran. Saya dan konsumen lain waktu itu segera transfer ke rekening Akumobil dalam waktu 15 menit, “ jelas dia.

Untuk harga mobil memang tak semua dipatok Rp50 juta , ada juga yang dibandrol Rp59 juta  itu tergantung tempat flash sale dilakukan. Kebetulan yang di TSM Bandung rerata harga untuk sebuah mobil Rp40-Rp50 juta. Sedangkan sepeda motor mulai dari Rp5juta sampai Rp6 juta saja.

“Waktu itu, yang sudah beli tiket pendaftara membayar Rp1juta dan nomor undiannya muncul tetapi tidak mentransfer dalam 15 menit atau sudah bayar pendaftaran (membayar Rp1juta) tetapi nomor undiannya tak muncul. Katanya uang Rp1 juta itu akan dikembalikan dalam waktu 14 hari kerja. Tapi nyatanya tidak,” kata dia.

Syarifudin 51 tahun korban penipuan akumobil, Bandung, Jumat (8/11/2019).

Mobil yang Didambakan Tak Kunjung Datang

Dengan menghela nafas yang berat, Syarifudin pun kembali menceritakan kembali pengalaman dirinya dan beberapa konsumen yang tertipu Akumobil. Setelah ia mentransfer uang Rp49 juta. Pihak Akumobil pun memberikan Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) sebagai bukti sudah transfer dan untuk mengambil mobil yang sudah menjadi hak konsumen dalam flash sale Akumobil.

“Dalam SPK itu dikatakan setelah 30 hari kerja mobilnya akan datang. Tetapi, sayangnya setelah 30 hari kerja saya menunggu mobil yang diidamkan dan yang dijanjikan Akumobil itu tak muncul-muncul. Dari situ, saya mulai melihat ada sesuatu yang tidak beres. Masa sudah 30 hari mobil tidak datang-datang,” tutur Syarifudin.

Karena mobil yang dijanjikan Akumobil tak kunjung datang. Syarifudin pun berinisiatif datang langsung ke Show Rool Akumobil yang beralamat di Jl. Sadakeling No.23 Bandung. Memang saat kesana ada beberapa penyerahan mobil kepada konsumen, tetapi konon katanya jumlah konsumen yang sudah mentransfer uang tidak berimbang dengan jumlah penyerahan unit mobil. Dalam sehari, hanya sekitar 3 sampai 8 unit yang diserahkan mulai dari sepeda motor hingga mobil.

“Saat saya sering datang ke Show Room Akumobil, ternyata bukan saya saja yang merasa tertipu. Ternyata lebih dari ratusan, mereka pun bernasib sama menagih janji Akumobil untuk memberikan mobil yang sudah dijanjikan kepada para konsumen,” ungkap dia.

Dari hari kehari terang Syarifudin, semakin banyak konsumen yang datang ke Show Room Akumobil. Bahkan ada konsumen yang akhirnya melaporkan Akumobil ke kepolisian hingga rekening PT Akudigital Indonesia (Akumobil) diblokir. Ada juga yang melapor langsung ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta. 

“Mulai banyaknya laporan ke kepolisian dan OJK. Semakin banyak konsumen merasa ditipu Akumobil, dan alasan yang janggal. Mulai dari alasan unit mobil habis, pihak dealer tidak lagi mensupport dan beribu alasan dari Akumobil. Saya dan konsumen lainnya mulai yakin bahwa kami semua sudah ditipu Akumobil,” terang dia.

Ada konsumen yang kadung kesal membawa beberapa pengacara dan organisasi masyarakat untuk menekan Akumobil. Usaha tersebut memang membuahkan hasil, dengan keluarnya unit mobil yang dijanjikan. Tetapi, diluar itu pihak Akumobil enggan mengeluarkan mobil atau motor sebagaimana yang sudah dijanjikan kepada para konsumen.

“Yang tak bisa berbuat apa-apa, ya sudah akhirnya menunggu seperti saya ini,” jelas Syarifudin.

Akibat adanya pelaporan dari salah satu konsumen ke kepolisian dan OJK. Rekening BCA atas nama PT Akudigital Indonesia (Akumobil) diblokir selama 2 bulan, dan OJK memberikan respon bahwa PT Akudigital Indonesia (Akumobil) ternyata masuk dalam blacklist perusahaan bermasalah.

“Setelah adanya rilis dari OJB bahwa Akumobil perusahaan bermasalah. Pada 31 Oktober kemarin. Kami sepakat untuk mendesak meminta Akumobil untuk mengembalikan uang para konsumen yang sudah ditransfer ke Akumobil. Memang waktu itu, karena banyaknya konsumen, banyak masyarakat yang mengira akan ada aksi demonstrasi. Padahal kami hanya menagih janji Akumobil untuk memberikan mobil atau mengembalikan uang,” ucap dia.

Bentuk Komite Para Korban Akumobil

Mengingat banyaknya jumlah konsumen yang sudah tertipu Akumobil, ia dan konsumen lainnya sepakat untuk membentuk wadah para korban yang sudah tertipu Akumobil. Setelah melalui proses pembicaraan dan melihat pihak Akumobil tidak ada itikad baik untuk menunaikan apa yang sudah dijanjikan.

Maka terbentuklah Komite Korban Penipuan Akumobil yang yang dipimpin 5 orang berikut wakilnya dengan sifat sukarela, dan atas dasar kepedulian sesama karena sudah tertipu oleh Akumobil.

“Memang banyak pimpinannya dan wakilnya karena untuk mem-back up apabila salah satu pimpinan atau wakilnya tak bisa hadir,” ucap dia.

Setelah terbentuknya Komite Korban Penipuan Akumobil, fakta dilapangan ternyata praktek penipuan yang dilakukan tidak hanya di TSM Bandung, tetapi dilakukan di Paskal Hyper Square di Jalan Pasir Kaliki, Lotte Mart Bandung, Harris Hotel dan di beberapa restoran ternama di Bandung hingga ke beberapa wilayah di Cirebon.

“Begitu pun dengan korbannya, ternyata tak hanya dari Bandung. Banyak juga dari luar Bandung. Banyak dari Jakarta, dan beberapa wilayah lainnya di Jawa Barat. Tapi yang paling banyak memang korbas asal Bandung,” pungkas dia.

Sementara itu, korban penipuan Akumobil lainnya sebut saja Iwan 40 tahun. Ia mengaku pesimis melihat perkembangan kasus penipuan Akumobil tersebut. Sebab, disaat Direktur Utama PT Aku Digital Indonesia (Akumobil) Bryan Jhon Satya yang saat ini sudah berstatus tersangka menyanggupi mengembalikan uang dari seluruh konsumennya yang sudah ditipunya. Tetapi, disisi lain pihak kepolisian Polwitabes Bandung menyatakan ketidaktahuan aset yang dimiliki hingga pernyataan aset Akumobil sudah kosong, meyakinkan dirinya bahwa kasus ini tidak akan cepat selesai, bahkan pesimis uang konsumen bakal dikembalikan.

“Kami ini seolah-olah sengaja dibenturkan oleh pihak-pihak yang mengingkan hal tersebut, terutama saat kita meminta pengembalian uang. Direktur Utama Akumobil tidak pernah hadir, dan anehnya saat Direktur Utama Akumobil diamankan kepolisian. Saya mencium gegalat aneh (janggal) dari kasus ini,” ungkap dia.

Dirinya menduga ada pihak yang mengambil keuntungan dari kasus yang bekerjasama dengan pihak Akumobil ini dengan terus menggerus aset yang dimiliki PT Aku Digital Indonesia.

“Ketidakpercayaan mulai timbul saat ada pernyataan dari Polwitabes Bandung bahwa posisi aset (uang) Akumobil saat ini tak ada. Tapi, Direktur Utamanya bilang ada dan sanggup mengembalikan. Ini sangat aneh,” ungkap dia.

Ia menilai apabila proses kasus Akumobil ini lambat, diduga kuat para korban penipuan Akumobil tidak akan mendapatkan haknya. Karena ada dugaan kuat pemindahan aset Akumobil. Meskipun masih dugaan, tetapi bercermin dari kasus Cipaganti dan kasus serupa lainnya, biasanya aset perusahaan selalu raib seiring proses hukum dilakukan.

“Apalagi prosesnya yang panjang dan lambat. Lengah sedikit, pasti aset Akumobil hangus dan uang kita pun raib. Sama seperti kasus lainnya yang tak pernah selesai hingga para korban lelah menunggu,” keluh dia.

Kejanggalan lainnya pun terjadi saat para korban mendesak Direktur Utama Akumobil mengembalika uang, pihak kepolisian justru seolah-olah melindungi Direktur Utama Akumobil dengan mengamankanya ke Polwitabes.

“Anehnya, saat kita mendesak ke Show Room Akumobil tiba-tiba polisi datag dan mempagari tinggi Show Room tersebut. Padahal kita korban diundang oleh Direktur Utamanya, tetapi diperlakukan seolah-olah akan berbuat onar. Logika saya yang tak sekolah merasa aneh. Wong kita diundang tapi dipagari agar kita tak bisa masuk,” ungkap dia.

Sampai-sampai dirinya pun dinilai provokator saking vokalnya menuntut Akumobil mengembalikan uang para konsumen yang sudah ditiupu PT Aku Digital Indonesia.

Sementara itu, Rahmat (35 tahun) salah satu korban penipuan Akumobil mengaku dirinya salah satu konsumen paling aktif yangs sering datang ke Show Room Akumobil. Ia mengungkapkan dari beberapa penenulusuran yang dilakukannya bersama konsumen lainnya, ditemukan beberapa hal yang janggal, patut dipertayakan.

Pertama, soal izin yang dikeluarkan pemerintah yaitu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pusat. Mengapa, OJK dalam waktu 1 sampai 2 bulan sangat cepat memberikan izin disaat sebelumnya Akumobil masuk dalam daftar hitam perusahaan bodong.

“Awalnya OJK pusat merilis 14 perusahaan investasi ilegal atau bodong sekitar Agustus atau September 2019. Satu diantaranya Akumobil masuk dalam daftar hitam tersebut oleh Satgas Waspada Investasi OJK,” tuturnya.

Anehnya ungkap dia, ternyata dalam perjalanannya sekitar awal Oktober OJK pusat menarik kembali status Akumobil yang awalnya perusahaan bodong menjadi perusahaan resmi dan berizin, dengan dasarnya OJK menyatakan Akumobil merupakasan perusahaan online. Padahal pada kenyataannya Akumobil ini perusahaan offline yang semua proses penjualan mobilnya dilakukan offline.

“Saya heran, melihat kerja-kerja OJK pasti tidak serta merta dalam mengeluarkan izin ke perusahaan. Pasti melakukan penelusuran yang mendetail. Dalam kasus Akumobil ini kenapa OJK dalam waktu singkat menarik status Akumobil dari ilegal menjadi perusahaan legal padahal sebelumnya masuk dalam daftar hitam perusahaan bodong,” ungkapnya.

Selain itu, Rahmat pun menjelaskan bahwa Akumobil ini perusahaan penjualan bukan perusahaan investasi. Sehingga, para korban disebut konsumen bukan nasabah. Artinya, penipuan yang sudah dilakukan Akumobil ini adalah bukan bentuk invetasi tetapi penipuan penjualan mobil.

“Kita tak nyaman dengan sebutan nasabah. Kita konsumen dalam jual beli mobil nasabah investasi. Dalam praktek penipuan yang dilakukan Akumobil pun dikatakan penjualan mobil, ada SPK-nya,” kata dia.

Hal yang janggal lainnya adalah, izin yang dikeluarkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pusat di Jakarta. Idealnya BKPM ini selalu melakukan penelurusuran perusahaan secara mendetail sebelum meloloskan perusahaan. Mulai dari kepemilikan modal hingga kesehatan keuangan perusahaannya.

“Pasti BKPM ini akan menimbang-nimbang, apakah perusahaan ini legal atau ilegal atau terindikasi perusahaan bodong. Tetapi, nyatanya kenapa BKPM seolah-olah kecolongan, memberikan izin kepada Akumobil yang jelas perusahaan yang sudah menipu ribuan konsumennya,” kata dia.

Leave a Reply