Jurusan Pekerjaan Sosial SMKN 15 Bandung Terus Berjuang demi Eksistensi

Tempat parkir SMKN 15 Bandung nampak depan, Bandung, Rabu (9/10/2019).

jabarnetwork.com,Tak sulit menemukan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 15 Bandung. Letaknya ditengah kota, tepatnya di  Jalan Gatot Subroto No.4 Bandung menjadikan sekolah ini mudah dicari maupun diakses.

Sama seperti sekolah pada umumnya, SMKN 15 Bandung akan nampak ramai saat jam  masuk, istirahat dan pulang sekolah. Tepat pukul 12.15, disaat jam istirahat saya datang berkunjung, dan sebelum berkeliling melihat-lihat seisi sekolah dan mewawancarai. Saya terlebih dahulu meminta izin satpam atau pihak sekolah SMKN 15 Bandung.

Dua siswi SMKN 15 Bandung duduk di ruang runggu koridor sekolah, Bandung, Rabu (9/10/2019).

Mengingat saat ini jam istirahat, banyak ditemui siswa-siswi di SMKN 15 Bandung. Nampak, dari ruang tunggu hingga koridor pintu masuk utama SMKN 15 Bandung ini dua siswi makan dan minum sambil bermain telepon genggamnya. Ada juga pasangan siswa siswi yang sedang berpacaran dipojokan.

Masuk ke dalam sekolah, disamping kanan ada ruangan yang difungsikan sebagai perpustakaan dan mushala. Nampak disitu beberapa siswa yang sedang shalat, ada juga yang tiduran sambil bermain telepon genggam.

Karena saat ini di SMKN 15 Bandung sedang ada pembangunan ruang kelas baru (RKB) di gedung lama, gedung yang ada sejak zaman Belanda. Semua proses belajar mengajar dilakukan di gedung baru, tepat di depan dan samping gedung lama yang sedang dibangun tersebut.

Dewi Agustiningsih, Ketua Kompetensi Keahlian Pekerjaan Sosial SMKN 15 Bandung, Bandung, Rabu (9/10/2019).

Dewi Agustiningsih, Ketua Kompetensi Keahlian Pekerjaan Sosial SMKN 15 Bandung bercerita banyak hal. Menurutnya, SMKN 15 Bandung ini dulunya bernama Kweek School Voor Onderwinzer dengan Bouwside yang dibangun oleh organisasi massa dan politik yang menghimpun masyarakat Indonesia, terutamanya kelompok pemuda di era Hindia Belanda atau yang dikenal dengan  Indo Erupee Verbond  (IEV) pada 1919. 

“Saya kesini (menjadi guru di SMKN 15 Bandung) sekitar 1994, jurusan pekerja sosial saat saya kesini sudah ada. Jurusan ini sudah lama dan berkali-kali berganti nama sampai akhirnya menjadi SMKN 15 Bandung,” tutur dia saat ditemui di SMKN 15 Bandung, Rabu 9 Oktober 2019.

Dewi melanjutkan ceritanya, waktu masih bernama Kweek School Voor Onderwinzer, sekolah ini berada di Jalan Papandayan yang sekarang menjadi Jalan Gatot Subroto. Hingga pada 1952, tepatnya 15 Februari 1952, tujuh tahun pasca Indonesia merdeka. Kweek School Voor Onderwinzer berubah menjadi Indoeenheidts Verbond atau Gabungan Indo Unit Kesatuan Indonesia (GIKI).

Tak lama kemudian, pada 1 Mei 1953 GIKI pun berubah kembali menjadi SGA atau Sekolah Guru Atas Negeri II Bandung. Hingga pada 22 April 1978, SGA Negeri II Bandung pun berubah menjadi SPG  atau Sekolah Pendidikan Guru.

Selang 5 tahun, tepatnya 1 September 1983 nama SGA Negeri II Bandung berubah kembali menjadi Sekolah Guru Olahraga (SGO) Negeri Bandung melalui SK Kakanwil Depdikbud Provinsi Jawa Barat No.114b/I02/Kep/R83.

Hingga akhirnya sekolah ini pun berubah menjadi Sekolah Menengah Pekerjaan Sosial atau SMPS Negeri Bandung pada 1989. Pada 1989 inilah menjadi tahun pendirian jurusan pekerja sosial hingga saat ini. Perubahan dari SGO menjadi SMPS Negeri Bandung ini berdasarkan SK Mendikbud No. 0342/u/1989 pada 5 Juni 1989, dan SK Mendikbud No.0426/o/1991 pada 15 Juli 1991.

Kemudian, pada 1997 muncul kebijakan semua sekolah kejuruan harus diubah namanya. Salah satunya, SMPS Negeri Bandung harus menjadi SMK Negeri 15 Bandung. Kebijakan baru tersebut sesuai dengan SK Mendikbud No.036/0/1997.

“Setelah 1997 dan sampai sekarang SMK Negeri atau SMKN 15 Bandung tidak ada perubahan nama lagi. Dari sejarah tadi, jadi jurusan pekerja sosial ini bisa dibilang muncul pada 1989,” jelas Dewi.

Mengenai latar belakang dibentuknya jurusan pekerja sosial ini terang Dewi, berawal dari paradigma mengenai masalah sosial akan terus berkembang. Sehingga dinilai perlu SDM khusus. Maka, pada 1989 dibuatlah sekolah atau jurusan pekerjaa sosial. Selain itu dalam konteks pada 1989 atau 30 tahun lalu, jurusan ini pun paling diminati dan dianggap langka sekaligus diperlukan.

“Dan melihat prospek pun, waktu itu jurusan pekerja sosial sangat bagus. Tahun 1989 menjadi masa emas jurusan pekerja sosial,” terang dia.

Pekerjaan Sosial yang Mulai Meredup

Namun demikian kata Dewi, seiring berjalannya waktu jurusan pekerja sosial pun akhirnya mulai ditinggalkan. Tahun berapa pastinya, Dewi mengakui tak mengetahui secara pasti. Tetapi, yang jelas pada 2006 menjadi tahun paling berat bagi SMKN 15 Bandung. Sehingga, SMKN 15 Bandung menambah bidang dan program untuk menyelamatkan SMKN 15 Bandung. Jurusan yang ditambah tersebut yaitu, bidang keahlian pariwisata dan program keahlian akomodasi perhotelan.

“Pada 2006, SMKN 15 Bandung akhirnya memiliki dua bidang dan program keahlian. Bidang keahlian pekerjaan sosial dan pariwisata, serta program keahlia pekerjaan sosial dan akomodasi perhotelan,”kata Dewi.

Sepuluh tahun kemudian, pada 2016 SMKN 15 Bandung kembali menambah dua paket keahlian yaitu, jasa boga dan multimedia. Keahlian ini dihadirkan selain kebutuhan industri, juga dinilai sebagai salah satu cara menyelamatkan SMKN 15 Bandung dari kepunahannya. Pada 2016, SMKN 15 Bandung memiliki 4 bidang dan program keahlian diantaranya; bidang keahlian pekerjaan sosial dan pariwisata, program keahlian pekerjaan sosial, akomodasi perhotelan, tata boga dan multimeda.

“Seiring banyaknya program, maka guru-guru yang sesuai dengan program pun mulai direkrut pada tahun tersebut. Sebelumnya, 30 tahun lalu  (1989) sama sekali tak ada guru khusus untuk program, seperti pekerjaan sosial. Sekarang sudah banyak guru, termasuk saya yang masuk 1994 mengajar untuk program pekerjaan sosial,” ujar dia.

Dewi mengungkapkan ihwal perjuangan SMKN 15 Bandung agar tetap bertahan hingga saat ini. Dirinya bersama guru-guru dan pihak terkait di SMKN 15 Bandung sudah cukup keras berjuang untuk mempertahankan eksistensi SMKN 15 Bandung. Berjuang agar program pekerjaan sosial sebagai program utama dan ciri yang melekat dari SMKN 15 Bandung tetap eksis. Meskipun penurunan minat terhadap program atau jurusan ini kian meningkat setiap ajaran baru. 

“Program (jurusan) pekerjaan sosial seiring waktu kurang diminati, dan kita sudah cukup keras berjuang. Susah payah menjaring siswa-siswi agar bersekolah disini, mengambil jurusan pekerjaan sosial sampai kita harus ikut (menjaring) ke sekolah lain (SMP),” ungkap dia.

Penambahan program memang menjadi salah satu upaya untuk mempertahankan SMKN 15 Bandung hingga saat ini. Terutama untuk terus menghidupkan jurusan pekerjaan sosial. Hingga, sekitar 2018 program (jurusan) pekerjaan sosial diubah menjadi keperawatan sosial.

“Alhamdulilah, setelah nama diganti. Ada peningkatan jumlah siswa-siswi yang masuk ke jurusan ini. Alhamdulilah sekarang sudah 400 siswa, dan 12 kelas. Dua belas (12) kelas tersebut, biasanya perkelas 34 siswa. Cukup banyak memang ditengah-tengah banyaknya pilihan jurusan, sekaligus kurang diminatinya pekerjaan sosial atau yang sekarang menjadi keperawatan sosial,” ujar dia.

Dewi menambahkan, meskipun SMKN 15 Bandung tak memiliki pesaing untuk program pekerjaan sosial karena hanya SMKN 15 Bandung satu-satunya sekolah yang memiliki jurusan ini. Tetapi, karena perubahan zaman, industri hingga pangsa pasar turut berubah, terutamanya paradigma masyarakat soal pekerjaan sosal atau keperawatan sosial yang keliru. Jurusan atau program ini memang terancam hilang, terutama apabila tidak ada dukungan dari pemerintah.

“Kita sadar diri kalau jurusan ini memang kurang diminati, meskipun sebenarnya jurusan (program) ini masih relevan dan potensial hingga saat ini . Karena kembali lagi ke permasalahan sosial  yang akan terus berkembang hingga sampai kapan pun,“ tambah dia.

Saat ini, kita perlu dukungan lebih dari pemerintah, terutama Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat yang membukakan akses selebar-lebar dan mempermudah birokrasi kerjasama dengan SMKN 15 Bandung untuk pengembangan dan program pekerjaan atau keperawatan sosial. Terutamanya, penyerapan alumni lulusan pekerjaan atau keperawatan sosial ini.

“Jadi tak melulu Kementerian Sosial, tetapi Pemerintah Daerah yang diharapkan membantu kita juga, membantu agar jurusan ini tetap ada,” harap dia.

Leave a Reply