Asa Pokbun 04 Pacing, Buat Kebun Mini Agrowisata

Iin Sumiati sebagai Sekretaris Kelompok Kebun (Pokbun) 04 Pacing, Kelurahan Cisarenten Kidul, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung saat membersihkan daun-daun mati .

jabarnetwork.com, Satu persatu daun-daun yang mati dibersihkan dan dikumpulkan Iin Sumiati ke dalam wadah plastik. Setelah itu, ia pun menyiram satu persatu tanamannya. Mulai dari jajaran bunga hias, aneka tanaman sayuran hingga pohon-pohon besar seperti mangga dan pohon lainnya yang ada di kebun Kelompok Kebun (Pokbun) 04 Pacing binaan Terminal BBM (TBBM) PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region (MOR) III.

Adalah Iin Sumiati, ibu berumur 45 tahun salah satu pengurus (Sekretaris) Kelompok Kebun (Pokbun) 04 Pacing, Kelurahan Cisarenten Kidul, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung. Ia bersama warga lainnya, terutama pengurus Pokbun 04 Pacing berupaya memberdayakan lahan yang dulunya bekas tempat sampah menjadi kebun produktif, dan bermanfaat bagi warga Pacing sendiri dan masyarakat lainnya.

Selain Iin Sumiati yang hobi bercocok tanam dan sangat cinta terhadap Pokbun 04 Pacing ini. Ada juga Ayi Safaat, bapak berumur 54 tahun yang merupakan Ketua dari Pokbun 04 Pacing memiliki harapan atau cita-cita menjadikan Pokbun 04 Pacing lebih luas, indah hingga bermimpi menjadi mini agrowisata yang tak hanya mengusung konsep organik, tetapi juga berharap bisa menerapkan konsep urban farming dengan cara hidroponik yang saat ini tengah diminati oleh masyarakat, terutama masyarakat perkotaan.

Ayi Safaat dan Iin Sumiati, mereka inilah salah satu pengurus aktif Pokbun 04 pacing binaan (TBBM) PT Pertamina (Persero) MOR III yang biasa melayani tamu yang hendak belajar bercocok tanam organik, atau hanya sekedar membeli bibit atau tanaman yang ada di Pokbun 04 Pacing ini.

Bibit pohon cengek atau cabai dalam polybag siap dijual

Dari Tempat Sampah Jadi Kebun Produktif

Sambil merapikan bibit cabai rawit atau yang lebih dikenal dengan sebutan cengek, Ibu Iin Sumiati bercerita awal mula terbentuknya Pokbun 04 Pacing binaan (TBBM) PT Pertamina (Persero) MOR III. Menurut Ibu Iin, terbentunya Pokbun 04 Pacing ini sekitar 2015 saat ada mahasiswa kedokteran salah satu universitas di Bandung yang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kelurahan Cisarenten Kidul, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung. Mereka (mahasiswa) berencana membuat program pemanfaatan lahan. Mereka pun menjadikan tempat pembuangan sampah sementara (TPS) yang ada di  Kelurahan Cisarenten Kidul ini menjadi kebun.

“Dulu (di 2015) saat Ibu jadi RT disini, ada mahasiswa yang KKN disini yang membuat program pemanfaatan lahan. Waktu itu, mereka beranggapan TPS hanya membuat lingkungan kotor dan bau, juga sumber penyakit karena letaknya berdekatan dengan pemukiman warga. Setelah berunding (dengan RW dan pihak Kelurahan Cisarenten Kidul) akhirnya ide mereka disetujui,” kata dia, Bandung, Selasa 8 September 2020.

Waktu itu, awal- awal terbentuknya Pokbun 04 Pacing sangat kecil sekitar 1 atau 2 meter luasnya. Kebun pun hanya ditanami tanaman obat dan beberapa tanaman buah-buahan. Seperti pohon mangga dan belimbing yang sekarang sudah besar ukurannya. Dua pohon inilah pemberian mahasisawa yang KKN tersebut, ditambah dengan beberapa tanaman herbal lainnya. Seperti sirih, jahe merah dan lain sebagainya.

“Mereka (mahasiswa KKN) menyarankan kalau Pokbun 04 Pacing ini lebih baik ditanami tanaman obat-obatan, dan kami pun mengiyakannya. Waktu awal-awal lahan ini lebih banyak tanaman obat-obatan, dan warga disini pun bebas mengambil apabila membutuhkan,” terang dia.

Setelah itu sekitar 2 tahun, dari Kelurahan Cisarenten Kidul melalui Kepala Urusan Ekonomi Pembangunan (Ekbang) Desa memberikan saran kalau Pokbun 04 Pacing ini sebaiknya diperluas pemanfaatannya karena lahan cukup luas.

“Melihat keberhasilan kebun ini, dari Kelurahan Cisarenten Kidul pun menyarankan perluasan lahan dan jenis tanaman yang ditanam. Tetapi, kami tak memiliki uang, akhirnya kami bersama pihak Kelurahan Cisarenten Kidul mengajukan proposal bantuan dan pembinaan kepada TBBM PT Pertamina (Persero) MOR III. Alhamdulilah disetujui,” jelas dia.

“Alhamdulilah sejak dibantu TBBM PT Pertamina MOR III Pokbun kita mulai maju. Lahan yang dimanfaatkan mulai diperluas sekitar 30 meter. Alhamdulilah juga dibantu Dinas Pertanian Kota Bandung, bantuan Pertamina sangat bermanfaat, sampai kami bisa punya kolam ikan,” kata dia.

Setelah Dibantu Pertamina

Iin pun bercerita kemajuan Pokbun 04 Pacing setelah dibantu sekaligus mendapat pembinaan dari TBBM PT Pertamina (Persero) MOR III. Sejak Pokbun 04 Pacing mendapatkan pembinaan dari TBBM PT Pertamina (Persero) MOR III sekitar 2017, memang banyak kemajuan yang sangat terasa adalah lahan yang dikelola semakian luas dibandingkan sebelumnya. Sehingga jenis tanaman pun lebih beragam dan produk yang dihasilkan pun lebih banyak. Seperti sayuran, karena lahan lebih luas kami bisa menanam banyak pakcoy, sosin, cengek dan lain sebagainya. Belum lagi berkat bantuan dan pembinaan tersebut Pokbun 04 Pacing sudah punya kolam ikan yang luasnya cukup lumayan, ikan pun banyak.

“Alhamdulilah pembinaan dari TBBM PT Pertamina sangat bermanfaat, terima kasih banyak kepada Pertamina. Kalau tidak ada pembinaan dari Pertamina mana bisa kita punya listrik, kursi, sauang dan semua yang kami miliki (kelola) sekarang,” kata dia.

Salah satu hasil olahan agar-agar dari sayuran karya Pokbun 04 Pacing.

Selain itu, sejak pembinaan dari TBBM PT Pertamina (Persero) MOR III pun Pokbun 04 Pacing bisa berinovasi mengolah hasil dari produk berkebun saat ini. Salah satunya, inovasi pembuatan kue stik sayur pakcoy dan puding bayam merah, hijau dan pakcoy. Pelatihan-pelatihan dan dorongan berinovasi dari TBBM PT Pertamina (Persero) MOR III dan dari Dinas Pertanian Kota Bandung sangat membantu inovasi yang berhasil dibuat Pokbun 04 Pacing.

“Berawal dari seringnya ikut penyuluhan olahan makanan. Habis itu kami dapat ide untuk membuat olahan yang bahannya berasal dari kebun. Ide muncul saat banyaknya ibu-ibu disini mengeluhkan anak-anaknya tidak suka makan sayur, nah muncullah ide membuat stik dan puding sayur, bahkan kami saat ini sedang membuat bakso. Alhamdulilah respon anak-anak disini mulai suka sayuran,” terang dia.

Apalagi kripik bayam, olahan ini paling diminati anak-anak bahkan ibu-ibu dan bapak-bapaknya sangat suka olahan kripik bayam, ke depan Pokbu 04 Pacing akan terus berinovasi mengolah bahan makanan yang ada di kebun menjadi aneka cemilan atau pangan yang disukai anak-anak.

“Insyallah kita akan terus berinovasi, mudah-mudahan akan semakin banyak olahan makanan yang laku dijual,” kata dia.

Tak hanya itu, Pokbun 04 Pacing pun mendapatkan pembinaan pemasaran dari TBBM PT Pertamina (Persero) MOR III dengan mendorong pemasaran online yang saat ini lebih populer dibandingkan berjualan langsung. Apalagi ditengah pandemi seperti ini, disaat masyarakat lebih banyak di dalam rumah masih takut untuk beraktivitas di luar rumah. Manfaat pembinaan pemasaran online sangat terasa sekarang.

“Waktu itu sebelum adanya Covid-19, Pertamina pernah memberikan pembinaan pemasaran online. Mereka mendorong kami bisa memasarkan semua produk olahan termasuk menjual tanamannya, bibit, bunga dijual online.Tapi ya, kami sampai sekarang belum begitu paham soal handphone (gadget). Masih sedikit bingung kalau pakai handphone. Jual online harus masuk dulu terus diminta apa itu kata kunci, memang susah ya,” keluh dia sambil tertawa malu.

Akhirnya, rencana pemasaran online tidak begitu maksimal dikerjakan Pokbun 04 Pacing karena ketidakmampuan anggota untuk menggunakan handphone, dan masuk pasar online. Alhasil, penjualan online hanya beberapa saja. Tapi, sejauh ini Ketua Pokbun 04 Pacing masih berusaha bisa berjualan online, tetapi baru sebatas penjualan di facebook dan group whatsup saja.

“Saya mah kurang paham kalau masuk pasar online itu, seperti bukalapak atau apa gitu. Instagram dan apa ya saya lupa. Saya bisa facebook, itupun harus masih dibantu anak saya. Akhirnya anaknya Pak Ayi Safaat (Ketua Pokbun 04 Pacing) yang mencoba berjualan online, olahan makanan dari Pokbun 04 Pacing. Tapi itupun baru di media sosial, alhamdulilah  kita bersyukur setidaknya ada peningkatan penjualan. Apalagi setelah Covid-19, sudah jarang ada yang membeli langsung kesini,” keluh dia.

Peningkatan penjualan tak hanya di olahan makanan, ada juga peningkatan penjualan sayuran dan bibit, dan beberapa untuk jenis bunga hias tetapi tak begitu banyak seperti sayuran yang biasanya banyak diminati.

“Biasanya oleh Pak Ketua Pokbun 04 Pacing yang dibantu anaknya (yang paham teknologi informasi) yang bagian penjualan online. Pak Ketua biasanya sering ambil foto sayuran yang akan dipanen, bunga, bibit dan makanan olahan di facebook, dia juga yang mengirimkan ke pembeli. Alhamdulilah ada banyak pembeli walaupun tak sebanyak saat belum ada Covid-19. (Sebelum Covid-19) banyak orang datang kesini, terutama dari luar. Kalau penduduk sini-mah sudah rutin membeli sayuran disini,” ungkap dia.

Mimpi Jadi Mini Agrowisata

Ditempat yang sama Ketua Pokbun 04 Pacing Ayi Safaat pun bercerita soal keinginan dirinya dan anggota lainnya untuk memperluas dan memperindah kebun mereka ini. Bahkan, Bapak berumur 54 tahun ini bercita-cita menjadikan Pokbun 04 Pacing ini menjadi mini agrowisata.

Sambil menunjukkan berbagai jenis tanaman dan mengajak memberi makan ikan di kolam ia pun mulai bercerita.

“Jadi gini neng (panggilan kepada anak perempuan bagi orang Sunda) memang kalau dibandingkan dengan Pokbun Flamboyan yang masih satu Kelurahan Cisaranteun Kidul mah kebun kita masih kalah bagus dan kalah populer. Bukan karena konsep yang diusung juga, Pokbun Flamboyan hidroponik dan Pokbun 04 Cipacing organik. Mungkin ke bentuk (rupa) kebunnya kali ya neng? Kalau kebun kita bisa ditingkatkan, bapak percaya kebun ini bisa sama-sama bagus seperti Pokbun Flamboyan,” tutur dia.

Ayi pun tak memungkiri setelah ada bantuan dan pembinaan dari PT Pertamina (Persero) MOR III banyak kemajuan yang diperoleh Pokbun 04 Pacing ini. Mulai dari luas, sarana dan prasarana, listrik, saung pakai besi ringan, kolam, punya kursi untuk para tamu, aneka jenis tanaman sayur, bunga, herbal, olahan makanan dan semua manfaat yang kini dirasakan anggota Pokbun 04 Pacing terutama masyarakat sekitar.

“Neng, sebelum di bantu mah (dibantu PT Pertamina (Persero) MOR III) lahan kebun ini teh kecil, jarang juga orang yang mau datang kesini atuh. Da apa yang bisa dilihat, paling yang mau beli sayuran atau bibit tanaman,” ungkap dia.

Tapi, setelah dibantu dan dibina oleh PT Pertamina (Persero) MOR III  banyak pengunjung yang datang ke Pokbun 04 Pacing. Sebelum pandemi Covid-19,biasanya Sabtu atau Minggu atau hari libur bakal ramai pembeli atau pengunjung yang mau belajar bercocok tanam organik.

“Kita itu konsepnya menanam organik, banyak yang datang kesini waktu sebelum ada Covid-19. Biasanya yang mau belajar disini itu datang berkelompok. Pernah ada yang dari Jakarta, kalau tidak salah itu Komunitas Menanam Jakarta, yang dari Kota Bandung juga lebih banyak lagi. Biasanya ibu-ibu, anak-anak sekolah yang belajar bercocok tanam. Seperti TK Cempaka Arum dan Adipura pernah kesini, belum yang lainnya tapi saya lupa nama-namanya,” kata dia.

Kalau mau datang berkunjung ke Pokbun 04 Pacing, biasanya harus memberitahu sebelumnya terang dia, karena nanti anggota Pokbun 04 Pacing akan mempersiapkan terlebih dahulu makanan minuman kalau memang meminta cateringnya disediakan, atau materi apa yang mau dipelajari.

“Mau berkunjung ke kita mah gratis, tidak ada pembayaran tiket. Tapi misalkan mau makan dan minum pengunjung bisa memesan catering ke salah satu anggota Pokbun 04 Pacing. Bisa meminta jenis makanan yang diinginkan,” terang dia.

Kalau mau beli bibit, bunga itu baru harus beli. Rata-rata harganya murah mulai Rp5.000 untuk bibit cabai atau cengek. Beda lagi kalau untuk tanaman herbal, Pokbun 04 Pacing memberikan secara gratis karena tujuannya untuk membantu. Jadi untuk tanaman obat sila ambil seperlunya.

“Untuk hasil panennya, kita jual biasanya yang banyak beli warga sini dan masyarakat lainnya yang kebetulan lewat atau yang membeli online lewat facebook. Termasuk olahannya juga bisa dibeli,” kata dia.

“Iya, adanya Pokbun 04 Pacing ini dirasa membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pangan sayuran dan ikan karena disini disediakan, murah lagi. Jadi ekonominya berputar di kita juga. Masyarakat mengelola dan membeli, uang hasil berjualan kembali lagi untuk kebutuhan kebun. Alahmdulilah neng, kita sangat bersyukur sudah dibantu Pertamina,” kata dia sambil melempar pakan ikan.

Tapi ungkap Bapak Ayi, cita-cita besar kami adalah bisa menjadikan Pokbun 04 Pacing jadi mini agrowisata, atau minimal luasnya ditambah dan dipercantik lagi agar lebih banyak pengunjung, banyak jenis tanaman dan ternak yang bisa dikembangkan. Kita berharap Pokbun 04 Pacing dibangun saung paranet dari besi ringan karena yang sebelumnya dari kayu roboh terkena angin puyuh.

“Kalau ada uang banyak mah itu kita berharap pakai saung paranet pakai besi ringan, karena kalau pakai kayu mudah hancur terkena angin,” jelas dia.

Pokbun 04 Pacing pun berharap ada air jet pump, karena selama ini air untuk menyiram tanaman harus mengambil dari sungai secara manual. Alhasil lama dan banyak anggota yang mengeluhkan sakit pinggang, apalagi saat kondisi musim kering, sangat susah mencari air hanya untuk sekedar menyiram air dan mengganti air kolam ikan, terutama ikan lele yang dalam ember.

Selain itu, Pokbun 04 Pacing berkeinginan sebagian area di paving blok agar lebih rapi. Lalu, berkeinginan juga ada pagar besi disekeliling kebun, karena selama ini pagar kayu hampir selalu rusak. Ada saja yang jahil, yang akhirnya ayam-ayam warga masuk merusak semua tanaman yang ada di kebun ini. Belum lagi ada saja orang iseng mengambil bunga tanpa sepengetahuan anggota Pokbun 04 Pacing, dan terakhir kami pun berharap bisa membangun toilet karena selama ini pengunjung mengeluhkan tak ada toiletnya. Akhirnya harus menumpang ke rumah warga. Kalau dihitung-hitung mungkin sekitar Rp20 juta untuk merealisasikan hal tersebut. Tapi, apa boleh buat hal itu baru sebatas mimpi karena uang yang dibutuhkan banyak.

“Kalau dihitung kasar mungkin segitu (Rp20 juta) yang kita butuhkan. Saya pun bingung harus bagaimana, karena pemasukan Pokbun 04 Pacing tak menentu tergantung hasil panen, ikan dan penjualan bibit,” keluh dia.

Ketulusan Untuk Melayani,  Program Kebun Binaan Pertamina

Dihubungi secara terpisah, Unit Manager Communication, Relation dan CSR PT Pertamina (Persero) MOR III, Eko Kristiawan menuturkan program kebun atau urban farming binaan TBBM Pertamina (Persero) MOR III atau (Pertamina FT Bandung Group) berawal dari program Corporate Social Responsibility (CST) Omaba (Ojek Makanan Balita). Program Omaba ini bertujuan turut membantu masalah stunting di wilayah Kecamatan Cisaranten Kidul, Kota Bandung. Salah satu inovasinya yakni, memberikan makanan sehat untuk anak-anak stunting.

“Terkait Omaba yang membutuhkan sayuran sehat dan organik untuk diolah menjadi makanan sehat. Maka, dibentuklah program kelompok berkebun atau urban farming di lingkungan sekitar yang wilayahnya melaksanakan program Omaba ini. Harapannya kelompok kebun ini dapat menyupai sayuran untuk bisa diolah,” tuturnya saat dihubungi dari Bandung, Minggu 27 September 2020.

Selain alasan tersebut, program berkebun atau urban farming ini pun sebagai upaya TBBM Pertamina (Persero) MOR III bersinergi dengan Pemerintah Kota Bandung, terutama untuk mendukung ketahanan pangan di Kota Bandung. Oleh karena itu, TBBM Pertamina (Persero) MOR III berupaya membentuk program urban farming ini di setiap wilayah.

“Juga (pertimbangan) melihat potensi lahan-lahan yang tidak terpakai dan bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar yang bisa bermanfaat pada peningkatan ekonomi. Apalagi dalam kondisi pandemi, kehadiran urban farming sangat membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangannya,” terang dia.

Adapun sejauh ini lanjut Eko menjelaskan, TBBM Pertamina (Persero) MOR III baru memberikan pembinaan program urban farming bagi 4 kelompok kebun diantaranya; Pokbun Flamboyan, Pokbun 04 Pacing, Sapuluh dan Alamanda. Kedepannya tidak menutup kemungkinan jumlah kelompok kebun yang dibina bertambah. Namun, pembinaan yang akan dilakukan untuk kelompok kebun baru akan dibantu oleh kelompok-kelompok berkebun yang sudah dibina oleh CSR Pertamina FT Bandung Group atau (TBBM Pertamina (Persero) MOR III). Mengapa demikian? Sebab mereka-mereka ini (kelompok kebun yang sudah ada) sudah menjadi kelompok rujukan berkebun se-Kota Bandung. 

Bahkan untuk Pokbun Flamboyan 14 sudah bertaraf tingkat Provinsi Jawa Barat. Jadi kelompok kebun yang sudah ada diharapkan bisa melakukan transfer knowledge kepada kebun-kebun baru.

“Tahun ini saja, Pokbun Flamboyan sudah membuat chanel Youtube terkait cara-cara berkebun di kala pandemi seperti saat ini,” jelas dia.

Mengenai bentuk pembinaan yang diberikan ungkap Eko, TBBM Pertamina (Persero) MOR III tidak membantu dalam bentuk uang tunai, tetapi berupa bantuan infrastruktur dengan harapan dapat membuat semua kelompok kebun yang dibantu bisa mendapatkan nilai ekonomi lebih. Seperti akuaponik, sarana prasarana berkebun. Termasuk melakukan pembinaan, berupa penyuluhan atau dorongan kelompok kebun untuk berinovasi membuat olahan dari hasil berkebun yang bisa dijual dan mempunyai nilai ekonomi lebih.

“Seperti olahan pakcoy, ice cream, mie cendol dan jenis makanan lainnya yang bisa diolah dan dijual. Tak hanya mendorong inovasi mengolah makanan, kami pun membantu dan mengajak Pokbun yang kita bina untuk mempunyai izin halal,” harap Eko.

Selain itu, pihaknya pun selalu mendukung kelompok kebun yang dibina TBBM Pertamina (Persero) MOR III agar mengikuti kegiatan pameran untuk lebih memperluas pasar. Salah satu kegiata yang pernah diikuti yaitu, Bandung Agri Market.

“Dan di 2019, kelompok kebun yang kita bina mendapatkan juara kebun terkreatif se-Kota Bandung,” kata dia.

Eko menambahkan, pembinaan yang dilakukan tersebut memiliki jangka waktu 5 tahun yakni mulai 2017-2021 dengan harapan semua kelompok kebun yang dibina bisa menjadi mandiri, bermanfaat bagi masyarakat luas. Dalam kegiatan pembinaan pun, TBBM Pertamina (Persero) MOR III bekerjasama dengan Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Pangan dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung.

“Jadi bantuan berupa pembinaan, support kegiatan untuk mendukung penambahan ekonomi lebih dari yang sekarang ini sudah direncanakan dari awal mulainya program, dan setiap tahunnya dilakukan rencana kegiatan bersama-sama,” tambah dia[]

Leave a Reply